KAYA VS MISKIN
Apakah semua harus kaya ? Pertanyaan ini seringkali hadir dalam benakku. Bagaimana tidak, semua orang berlomba, bekerja, berusaha hanya untuk mendapatkan kekayaan. Apappun yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini, semua bermula dari keinginan untuk mendapatkan kekayaan.
Politikus, agamawan, pengusaha, pengemis, penulis, sopir taksi, abang becak, dan semua profes lainya, semua berusaha untuk mendapatkan kekayaan. Bentuk kekayaan itu umumnya berupa harta benda, dan harta itu lebih banyak disimbolkan dengan duit. Berapa banyak duit yang kita miliki, itu dapat dijadikan standar untuk mengukur kekayaan kita.
Itulah sebabnya, semua manusia tak kenal siang ataupun malam, selalu berusaha untuk menambah kekayaannya. Duit dijadikan alat untuk meningkatkan status sosial di tengah masyarakat. tak mengherankan memang, karena semua manusia secara naluriah dan alamiah selalu menginginkan status yang tinggi. Tak peduli dengan cara apa status itu didapatkan, yang penting bahwa manusia selalu meningkat derajatnya dibandingkan dengan manusia lainnya.
berbagai cara dilakukan. Mulai dari yang kecil sampai ke yang besar. Dari yang halal samapi yang haram, atau menghalalkan yang haram demi kekayaan semata. Saling sikut, fitnah, iri dan dengki, mewarnai setiap usaha manusia itu. Yang kuat menindas yang lemah. Yang banyak menghimpit yang sedikit. Dan yang lebih merendahkan yang kurang. Itulah kenyataan yang ada ditengah masyarakat.
Ajaran agama, norma hukum dan sosial, serta nilai-nilai adat istiadat yang berlaku ditengah masyarakat mulai luntur. Manusia banyak yang sudah tak peduli dengan hal itu. Kekayaan telah menjerumuskan manusia ke tengah lautan kehidupan yang mengoyak nilai agama dan moral. Kekayaan juga membuat manusia saling bermusuhan. Antara yang kaya dengan yang miskin tak pernah bersahabat. Inilah penyebab utama kenapa kemiskinan itu tak pernah habis. Si miskin dan si kaya selalu berada dalam “perang dingin”. Yang miskin takut dengan yang kaya, karena si kaya akan mengeksploitasi kemiskinan mereka demi kakayaan si kaya. Demikian pula sebaliknya, si kaya takut dengan si miskin, karena si kaya tak pernah kasian dengan si miskin.
Kalau demikian, tak bolehkah kita hidup kaya ? Tentu boleh-boleh saja. yang penting bahwa kekayaan kita memberikan manfaat tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk manusia lainnya. Artinya, kekayaan yang kita dapatkan dijadikan alat untuk meningkatkan persaudaraan diantara sesama manusia. Menolong yang kekurangan, membantu yang lemah, memberdayakan si miskin merupakan bentuk pemanfaatan harta kekayaan yang baik. Persaudaraan antara si kaya dengan si miskin diharapkan dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan antara kekuatan dan kelemahan manusia. Setiap orang hendaknya mampu menjadi pendulum yang akan melejitkan si lemah agar menjadi kuat, si miskin menjadi kaya, yang kurang menjadi cukup, dan sebagainya.
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Mei 2009 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS